Tag Archives: Raden Sutawijaya / Panembahan Senapati

Buku 014 (Seri I Jilid 14)

  Dada Agung Sedayu berdesir mendengar pertanyaan itu. Baru kini disadari bahwa ia telah melanggar perintah kakaknya. Tetapi menurut pendapatnya, pertanggungan jawab atas peristiwa itu ada pada gurunya. Karena itu maka jawabnya, “Aku telah mencoba melakukan perintah itu Kakang. Tetapi guruku, Kiai Gringsing menyuruh aku kembali membawa orang ini. Kiai Gringsing sendirilah yang akan mengambil alih …

Baca lebih lanjut

Buku 015 (Seri I Jilid 15)

  Demikianlah, maka sejenak kemudian mereka berdua telah terlibat dalam sebuah pekelahian yang semakin sengit. Pedang Sidanti berputar dengan cepatnya sedang senjata khususnya di tangan kiri dipergunakannya sebagai perisai, namun kadang-kadang senjata itulah yang mematuk dengan sangat berbahaya. Sebuah sentuhan dan goresan pada kulit lawan, maka akibatnya akan dapat berarti maut. Tetapi lawan Sidanti itu dapat mempergunakan …

Baca lebih lanjut

Buku 016 (Seri I Jilid 16)

  Dalam kegelisahannya, Ki Tambak Wedi itu kemudian berjalan mendekati desa Benda. Di sepanjang langkahnya, tak habis-habisnya ia mengumpat-umpat. “Akhirnya aku harus pergi juga ke desa itu. Lebih baik sejak semula aku kerjakan sendiri pekerjaan ini.” Setelah meloncati beberapa buah parit dan menyibak beberapa macam tanaman di sawah-sawah, akhirnya Ki Tambak Wedi berdiri di luar …

Baca lebih lanjut

Buku 017 (Seri I Jilid 17)

  Mereka pun kemudian memungut busur-busur mereka, menyilangkannya di punggungnya. Endong, tempat anak panah merekapun segera mereka ikat pada pinggang masing-masing. Di kiri tergantung pedang dan di kanan tergantung endong-endong itu, kecuali Sutawijaya yang bersenjatakan tombak. Ketiganya kemudian dengan hati-hati berjalan menjauhi perapian mereka. Agung Sedayu dan Swandaru telah menarik pedang-pedang mereka dari sarungnya. Kalau …

Baca lebih lanjut

Buku 018 (Seri I Jilid 18)

  Prajurit yang agak kecil dan bahkan semua orang terperanjat melihat orang itu. Orang itu pun ternyata prajurit Pajang pula. “Kenapa kau?” bertanya prajurit yang bertubuh kecil. “Kenapa kau berada di situ pula” jawab prajurit yang ditanya. Dan mereka pun terdiam. Namun kembali mereka terkejut ketika mereka tiba-tiba mendengar suara tertawa dari kegelapan. Ternyata suara …

Baca lebih lanjut

Buku 019 (Seri I Jilid 19)

  Karena itu, maka kepala Argajaya terdorong ke belakang. Sentuhan tangkai tombak Sutawijaya memang tidak begitu keras, sehingga Argajaya pun tidak sampai kehilangan keseimbangan. ­Tetapi tangkai tombak Sutawijaya itu pun telah membuat luka pada pelipis Argajaya, sehingga luka itu rnoneteskan darah.     Terdengar tiba-tiba Argajaya mengumpat kasar. Dengan tiba-tiba ia menyerang kembali Sutawijaya. Namun …

Baca lebih lanjut

Buku 020 (Seri I Jilid 20)

  Akhirnya dari tempat yang terlindung itu Kiai Gringsing melihat dua orang mendekatinya. “Benarkah kau, Kiai?” “Ya, aku datang bersama dengan Anakmas Swandaru dan Agung Sedayu.” “Oh, di mana mereka sekarang?” “Itu, di situ. Kami tidak ingin mengejutkan kalian. Kalau kalian melihat kami berempat, maka kalian akan terkejut dan mungkin berbuat sesuatu diluar perhitungan kami.” …

Baca lebih lanjut

Buku 041 (Seri I Jilid 41)

  Sementara itu, Ki Tambak Wedi masih saja sibuk mencari orang yang telah mengganggunya. Tetapi seperti hantu, orang itu menghilang tanpa meninggalkan bekas apa pun. “Pasti bukan orang kebanyakan,” desisnya. Dan tiba-tiba saja diingatnya orang yang telah mengintainya, ketika ia menunggu orang-orang berkuda itu. “Kalau orang ini yang mengintai itu, maka apakah yang dapat dilakukan …

Baca lebih lanjut

Buku 042 (Seri I Jilid 42)

  “Silahkan. Semua serba darurat.” “Demikianlah agaknya, Ki Gede. Di peperangan semuanya harus menyesuaikan diri.” Ki Argapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian, “Ini adalah anakku. Karena itu, aku tidak menyuruhnya pergi. Dalam keadaan serupa ini, lebih banyak yang diketahuinya, akan lebih baik baginya dan bagi Tanah ini.” Gembala tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. “Aku kira, ia perlu …

Baca lebih lanjut

Buku 047 (Seri I Jilid 47)

  “Aku akan menunggu sebentar. Kalau tidak segera ada pemberitahuan dari induk pasukanmu yang sedang bertempur itu, aku akan menyusul mereka. Mungkin mereka memerlukan bantuan.” Pemimpin pengawal itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian dipersilahkannya anak muda itu singgah sebentar di padukuhan itu sambil menunggu berita dari padukuhan induk tentang pertempuran untuk merebut kembali daerah yang telah dirampas …

Baca lebih lanjut