Tag Archives: Rudita

Buku 069 (Seri I Jilid 69)

  “Aku kira, jika ada prajurit-prajurit peronda sampai ke daerah ini, maka tentu ada gardu-gardu dan tempat-tempat pengawas yang menjadi tempat peristirahatan dan pusat-pusat perondaan.” “Mungkin demikian,” Kiai Gringsing pun mengangguk-angguk. “Jika demikian, kita dapat menempuh jalan yang semula akan kita lalui. Bukan jalan ini,” berkata Agung Sedayu kemudian. Tiba-tiba Swandaru mengerutkan keningnya. Sambil berpaling …

Baca lebih lanjut

Buku 070 (Seri I Jilid 70)

  Pandan Wangi menarik nafas dalam-dalam. Sekali dua kali ayahnya sudah harus menolak lamaran yang datang dari orang-orang penting di Menoreh, bahkan dari daerah tetangga. Agaknya ayahnya pun masih juga menunggu karena ia sudah pernah membicarakannya dengan Kiai Gringsing, apalagi Ki Argapati mengetahui bahwa agaknya anaknya telah bersetuju di dalam hati. Perlahan-lahan Pandan Wangi itu …

Baca lebih lanjut

Buku 071 (Seri I Jilid 71)

  Pandan Wangi yang juga mendengar rencana Rudita itu menjadi gelisah. Tetapi ia berterima kasih di dalam hati, bahwa anak-anak muda yang lain seakan-akan tidak berkeberatan atas keputusan yang telah diambil oleh Rudita itu, sehingga dengan demikian tidak timbul persoalan yang tegang di antara mereka. Dalam pada itu Prastawa pun bertanya pula kepada Pandan Wangi …

Baca lebih lanjut

Buku 072 (Seri I Jilid 72)

  Raden Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia telah mencoba menerobos hutan itu, tetapi memang terlampau sulit, sehingga lebih cepat baginya untuk melingkar di sebelah hutan liar ini. Namun dengan demikian ia telah kehilangan buruannya dan justru menemukan perkemahan Pandan Wangi di pinggir hutan itu. “Memang sulit sekali,” berkata Sutawijaya, “tetapi jika aku menunggu sampai besok, maka …

Baca lebih lanjut

Buku 076 (Seri I Jilid 76)

  Dengan demikian maka bersama di dalam satu kelompok dengan Ki Lurah Branjangan, Raden Sutawijaya berusaha untuk menahan Daksina. Meskipun Raden Sutawijaya sadar, bahwa Daksina memiliki kemampuan yang lebih baik daripada dirinya sendiri, tetapi seperti yang pernah di lakukan, Raden Sutawijaya tidak berdiri sendiri. Di pihak yang lain, senapati pangapit Panembahan Alit tertahan oleh Ki …

Baca lebih lanjut

Buku 077 (Seri I Jilid 77)

  Ki Waskita menjadi berdebar-debar. Ia sadar, bahwa beberapa orang pengawal Panembahan Agung itu tentu bukan orang kebanyakan. Jika mereka bersama-sama menyerangnya, maka ia akan menjadi agak bingung juga. Namun ia sudah bertekad, bahwa ia harus terlibat dalam perkelahian yang kisruh sehingga Panembahan Agung akan menjadi ragu-ragu melepaskan anak panahnya, karena dengan demikian akan dapat …

Baca lebih lanjut

Buku 086 (Seri I Jilid 86)

  Pembicaraan mereka pun kemudian dengan lancar merambat kepada berbagai macam persoalan. Kiai Gringsing sengaja tidak dengan tergesa-gesa menyampaikan pesan-pesan dari Ki Demang Sangkal Putung. Agaknya Ki Argapati tentu akan mengumpulkan beberapa orang tua-tua di Tanah Perdikan Menoreh dan membicarakannya sama sekali. Karena itu, maka Kiai Gringsing pun menunggu apabila saatnya telah datang. Seperti yang …

Baca lebih lanjut

Buku 088 (Seri I Jilid 88)

  Kiai Kelasa Sawit memperhatikan kuda-kuda yang berderap meninggalkan halaman rumah yang kotor itu. Demikian kuda-kuda itu lenyap di balik regol, maka ia pun segera memanggil orang-orang yang paling dekat dengan dirinya sambil menghentakkan kakinya, “Gila. Siapakah yang membawa prajurit-prajurit itu kemari?” Seorang yang bertubuh kurus sambil menyandang sebuah canggah bertangkai pendek di bahunya menyahut, …

Baca lebih lanjut

Buku 089 (Seri I Jilid 89)

  Ki Demang mengangguk-angguk. Katanya, “Ya, ya Ki Sanak. Aku menyadari kekeliruan itu. Aku akan sangat memperhatikannya dan akan aku sampaikan kelak kepada prajurit Pajang yang masih sering datang untuk memberi bimbingan olah kanuragan.” “Mudah-mudahan tidak menimbulkan salah paham,” berkata Kiai Gringsing kemudian. “Aku akan berusaha,” jawab Ki Demang bersungguh-sungguh. Demikianlah, maka setelah Ki Demang …

Baca lebih lanjut

Buku 090 (Seri I Jilid 90)

  Tiba-tiba saja Kiai Kelasa Sawit menggeram. Kemarahan yang ditekannya di dalam dadanya, rasa-rasanya tidak tertahankan lagi, sehingga ia tidak dapat mengekang ledakan yang dahsyat. Semua orang Tambak Wedi terkejut, ketika mereka kemudian mendengar Kiai Kelasa Sawit berteriak nyaring. Seperti teriakan seekor orang hutan di tengah-tengah rimba setelah berhasil membunuh lawannya. Dengan serta-merta Kiai Kelasa …

Baca lebih lanjut