Tag Archives: Sabungsari

Buku 117 (Seri II Jilid 17)

  Swandaru pun sejenak tercenung diam. Ia menghubungkan keadaan lawannya dengan benturan yang terjadi, sebelum keduanya terlibat pada pertempuran yang aneh itu. Menurut perhitungan Swandaru, benturan yang meskipun telah melemparkan Agung Sedayu itu, agaknya menumbuhkan luka-luka di bagian tubuh lawannya yang lengah, karena ia menganggap bahwa Agung Sedayu sudah tidak berdaya. Namun dalam pada itu, …

Baca lebih lanjut

Buku 118 (Seri II Jilid 18)

  “Ayah tentu memperbolehkan jika Kakang tidak berkeberatan.” “Aku tidak berkeberatan, jika Paman Widura mengijinkan.” “Itu namanya berputar-putar,” Glagah Putih bersungut-sungut, “tetapi aku akan ikut Kakang melihat sawah dan pategalan.” “Hanya sawah di ujung lorong itu,” potong Agung Sedayu. “Ya. Sawah di ujung lorong.” Glagah Putih tetap pada pendiriannya. Agaknya Ki Widura memang tidak melarangnya, …

Baca lebih lanjut

Buku 120 (Seri II Jilid 20)

  Sabungsari yang hampir tidak sabar mengawasi kelima orang-orangnya, ternyata sempat melihat mereka meninggalkan tempat persembunyiannya, sehingga ia pun segera menyusul mereka. Sementara itu kegelisahan dan hampir ketidaksabaran, membuatnya semakin mendendam. Setiap kali ia menggeretakkan giginya. Rasa-rasanya ia tidak sabar lagi menunggu untuk meremas dada Agung Sedayu. “Aku harus membunuhnya, sebagaimana ia membunuh ayahku. Mayatnya …

Baca lebih lanjut

Buku 121 (Seri II Jilid 21)

  Orang berkumis itu telah menyerang lawannya dengan garang. Ternyata Perguruan Pesisir Endut telah membentuknya menjadi seorang yang memiliki kekuatan yang besar dan kecepatan bergerak yang mengagumkan. Apalagi mereka tidak lagi mempunyai perasaan belas kasihan sedikitpun juga, seperti juga kedua kakak beradik yang dengan garangnya telah berusaha membunuh Glagah Putih tanpa belas kasihan. Para pengikut …

Baca lebih lanjut

Buku 122 (Seri II Jilid 22)

  Sabungsari memandang dua buah batu yang memang hampir sama besar. Tetapi ia tidak tahu, bagaimanakah Agung Sedayu akan mengangkat batu yang besarnya sebesar kepala gajah itu. Sabungsari menjadi semakin heran, ketika ia melihat Agung Sedayu kemudian duduk di atas sebuah batu yang lain. Menyilangkan tangannya sambil berkata, ”Berilah aku waktu. Aku yakin, bahwa kita …

Baca lebih lanjut

Buku 123 (Seri II Jilid 23)

  Seorang anak muda yang bertubuh tinggi agak kekurus-kurusan, yang agaknya pemimpin pasukan pengawal padukuhan itu, maju ke depan regol. Di bawah cahaya lampu obor ia memperhatikan kelima orang prajurit yang berdiri termangu-mangu di luar regol padukuhan. “Apakah aku berhadapan dengan prajurit Pajang di jati Anom?” bertanya anak muda yang bertubuh tinggi itu. “Ya. Kami …

Baca lebih lanjut

Buku 124 (Seri II Jilid 24)

  “Apapun yang akan kau lakukan terhadap Untara, Agung Sedayu maupun Swandaru bukanlah urusanku. Bunuhlah aku yang pertama-tama. Aku menuntut kematian sahabatku.” “Siapakah sahabatmu?” bertanya Carang Waja. “Aku tidak perlu menyebutnya. Sudah terlalu banyak orang yang kau bunuh. Karena itu, kau tentu tidak akan dapat mengingatnya lagi.” Carang Waja menggeram. Sementara Sabungsari telah melangkah mendekatinya. …

Baca lebih lanjut

Buku 125 (Seri II Jilid 25)

  “Bukankah kalian pernah melakukannya bagi Senapati Ing Ngalaga, yang mempunyai kedudukan yang hampir sama? Raden Sutawijaya itu pun putra Sultan di Pajang, meskipun putra angkatnya.” “Tetapi ia sangat baik dan seolah-olah tidak ada jarak dengan kami,” berkata salah seorang gadis. “Demikian pula Pangeran Benawa,” sahut Agung Sedayu, “tetapi kalian memang lebih dekat dan sudah pernah …

Baca lebih lanjut

Buku 126 (Seri II Jilid 26)

  Namun agaknya kedua orang anak muda itu tidak akan berselisih. Nampaknya keduanya tidak salah paham dan tidak dibatasi oleh perasaan yang buram. Keduanya nampak berbicara dengan akrab dan ramah. Sekali-sekali terdengar keduanya tertawa. Adipati Partaningrat masih saja bersungut-sungut. Ia benar-benar kecewa karena kedatangan Pangeran Benawa. Meskipun ia sadar, bahwa ia berada di Mataram, berada …

Baca lebih lanjut

Buku 127 (Seri II Jilid 27)

  “Jangan memperkecil diri sendiri. Jika kau berusaha untuk meningkatkan ilmu adalah suatu usaha yang baik. Tetapi jika kau kehilangan kepercayaan kepada diri sendiri, maka usahamu sebagian telah gagal,” berkata Agung Sedayu. Glagah Putih mencoba mengerti keterangan kakaknya. Karena itu, ia tidak kehilangan gairah yang menyala di dalam hatinya untuk berlatih. “Tetapi kau jangan merasa …

Baca lebih lanjut