Tag Archives: Sukra

Buku 158 (Seri II Jilid 58)

  Sekar Mirah mengangguk-angguk. Iapun melihat meskipun sekilas, bagaimana tukang-tukang satang yang ternyata adalah anak-anak muda dari barak itu menghadapi lawan-lawannya. Namun sebagaimana juga dikatakan oleh Agung Sedayu, bahwa kemampuan mereka masih belum setingkat dengan lawan-lawan mereka. Karena menurut Agung Sedayu Ki Tumenggung Prabadaru juga hadir di pertempuran itu, maka kemungkinan terbesar dari antara lawan …

Baca lebih lanjut

Buku 160 (Seri II Jilid 60)

  “Kakang,” berkata Sekar Mirah kemudian, “aku mohon maaf, bahwa mungkin yang akan aku katakan kurang kau sepakati. Tetapi aku ingin kau mengetahui perasaanku. Dengan demikian, maka kita akan dapat saling mengerti dasar pikiran kita masing-masing, jika kita kemudian melihat sikap dan langkah-langkah yang barangkali tidak pernah kita lakukan sebelumnya.” Agung Sedayu mengangguk-angguk. Tetapi ia pun …

Baca lebih lanjut

Buku 172 (Seri II Jilid 72)

  Dengan demikian, tanpa hadirnya Raden Sutawijaya, maka sidang para pemimpin dan orang-orang tua yang berpengaruh di bidang pemerintahan dan keagamaan telah mengambil keputusan, menunjuk Raden Sutawijaya untuk memangku jabatan tertinggi dari pemerintahan Pajang. Para pemimpin itupun tahu dan menyadari sepenuhnya, bahwa Raden Sutawijaya yang bergelar Senapati ing Ngalaga itu tentu tidak akan mau memimpin …

Baca lebih lanjut

Buku 177 (Seri II Jilid 77)

  Ki Waskita mengangguk-angguk. Katanya, “Aku pun melakukan seperti yang kau lakukan. Aku ternyata makan lebih banyak dan saat-saat aku belum mengalami luka yang parah ini. Dengan demikian, seperti yang kau harapkan, pertama-tama wadagku harus pulih lebih dahulu.” “Karena itu Ki Waskita, aku ingin mohon diri kepada Ki Gede untuk kembali ke rumahku yang sudah …

Baca lebih lanjut

Buku 184 (Seri II Jilid 84)

  Keduanya telah saling mendorong dengan kekuatan yang sangat besar, sehingga kaki-kaki mereka telah semakin membenam ke dalam tanah. Asap pun telah mengepul dan wajah-wajah mereka telah menjadi semakin pucat. Titik-titik keringat yang mengembun di kening dan dahi mulai mengalir dan membasahi wajah-wajah mereka. Bahkan kemudian di seluruh tubuh mereka telah mengembun keringat yang kemudian …

Baca lebih lanjut

Buku 185 (Seri II Jilid 85)

  Anak muda itu tertawa. Katanya, “Kau memang sangat menarik. Ayolah. Berlatihlah. Kita tidak usah merasa segan. Kau tidak tahu namaku, dan aku tidak bertanya siapa namamu.” Tetapi Glagah Putih tetap menggeleng. Katanya, “Tidak mau. Aku tidak akan meneruskan latihan. Aku akan pulang. Sebelumnya aku masih harus membuka pliridan.” “Waktunya masih lama,” jawab anak muda …

Baca lebih lanjut

Buku 189 (Seri II Jilid 89)

  Dengan demikian, maka sikap Ki Tumenggung itu telah membuat prajurit-prajuritnya menjadi bingung. Apa yang sebenarnya telah terjadi. Tetapi Ki Tumenggung itu telah mengatakannya sendiri, bahwa Agung Sedayu telah memenangkan taruhan itu. Karena prajuritnya masih nampak kebingungan, maka sekali lagi Ki Tumenggung berkata, “Dengarlah. Kami berdua telah melakukan taruhan ini dengan jujur. Ternyata yang memenangkan …

Baca lebih lanjut

Buku 198 (Seri II Jilid 98)

  Namun dalam pada itu, Raden Rangga yang ingin melihat kebakaran yang lebih besar lagi, telah memusatkan nalar budinya pula. Dari dalam dirinya pun telah memancar udara panas yang menghembus ke arah banjar yang terbakar. Bahkan beberapa orang tiba-tiba saja telah merasa dipanggang di atas api. Namun kemudian telah berhembus pula angin yang sejuk dan …

Baca lebih lanjut

Buku 200 (Seri II Jilid 100)

  Glagah Putih tidak dapat berbuat sesuatu jika Raden Rangga memang ingin melakukannya. Tetapi ia masih mencoba memperingatkannya, “Apakah Raden lupa kepada pesan ayahanda?” Kedua anak muda itu tidak sempat berbicara lebih lama lagi. Keempat orang itu telah melangkah mendekati seperti seseorang yang sedang merunduk kelinci. Suara tertawa Raden Rangga-lah yang meledak. Katanya, “Kenapa kalian …

Baca lebih lanjut

Buku 205 (Seri III Jilid 5)

  Ternyata Glagah Putih tidak sempat menjawab. Orang yang marah itu pun telah meloncat dan menyerangnya. Ia benar-benar ingin segera membunuh Glagah Putih, agar iapun dengan cepat membunuh putra Panembahan Senapati itu pula. Menurut perhitungannya maka anak itu tidak akan memiliki kemampuan setinggi anak Panembahan Senapati, yang tidak segera dapat dikalahkan oleh saudara seperguruannya. Glagah …

Baca lebih lanjut