Tag Archives: Sultan Hadiwijaya

Buku 078 (Seri I Jilid 78)

  Ki Lurah Branjangan menarik nafas dalam-dalam. Ia memang sudah menduga sebelumnya. Meskipun demikian, pengakuan Raden Sutawijaya itu telah menggetarkan dadanya. Hubungan antara Raden Sutawijaya dengan seorang gadis yang dikehendaki oleh Sultan Pajang, tentu akan menimbulkan persoalan yang sangat rumit, justru pada saat Mataram sedang tumbuh dan berkembang menjadi suatu negeri yang ramai. “Paman,” berkata …

Baca lebih lanjut

Buku 079 (Seri I Jilid 79)

  Dada Ki Gede Pemanahan menjadi semakin berdebar-debar. Kini ia mulai condong kepada pendapat bahwa agaknya Sultan Hadiwijaya sudah mengetahui apa yang terjadi atas putra angkatnya Raden Sutawijaya. Jika demikian, maka selama ini yang dihadapi adalah sikap yang pura-pura saja dari Sultan. Sebenarnya Sultan Pajang itu telah menyimpan kemarahan yang membara di dadanya. Namun agaknya …

Baca lebih lanjut

Buku 110 (Seri II Jilid 10)

  Di bagian lain dari sayap itu, Ki Waskita telah berhasil mengatasi kusulitan yang paling gawat. Iapun telah berhasil menekan lawannya yang mulai lelah. Lawannya yang bertubuh dan berkekuatan raksasa itu, ternyata sulit untuk mengimbangi Ki Waskita. Bukan saja ketangkasan dan kecepatan bergerak, tetapi ternyata Ki Waskita memiliki kelebihan daya tahan seperti halnya Kiai Gringsing. …

Baca lebih lanjut

Buku 111 (Seri II Jilid 11)

  Kendil Wesi pun kemudian kembali ke dalam rumahnya yang juga berada di halaman bagian belakang Istana Pajang. Sejenak ia merenung, bagaimana caranya ia dapat keluar dengan seekor kuda. “Tetapi aku harus melakukannya,“ gumamnya. Dengan sangat hati-hati, iapun kemudian pergi ke kandang di belakang rumahnya. Gelapnya malam ternyata banyak imembantunya. Apalagi para prajurit yang tidak lagi …

Baca lebih lanjut

Buku 113 (Seri II Jilid 13)

  Agung Sedayu masih termangu-mangu. Tetapi ia tidak sampai hati melihat para pengawal mengalami kesulitan. Dan hampir di luar sadarnya ia telah mengangkat cambuknya kembali. Sekali lagi terdengar cambuk Agung Sedayu meledak. Meskipun Agung Sedayu tidak mengenai seorangpun dari ketiga orang lawannya, namun suara cambuknya telah mengejutkan mereka. Sejenak mereka bagaikan kehilangan pengamatan diri oleh …

Baca lebih lanjut

Buku 114 (Seri II Jilid 14)

  Pengawal itupun bergeser surut. Sejenak ia hilang di luar pintu paseban dalam. Namun kemudian ia nampak kembali bersama seorang anak muda. Agung Sedayu. Wajah Untara benar-benar menjadi tegang. Ketika Agung Sedayu bergeser sambil berjongkok setapak demi setapak, rasa-rasanya anak itu menjadi sangat lamban. Hampir saja ia berteriak agar adiknya itu bersikap sedikit cepat. Ketika …

Baca lebih lanjut

Buku 161 (Seri II Jilid 61)

  “Diri kami benar-benar sudah menjadi kosong Ngger. Aku tidak dapat melepaskan ilmu Tunda Bantala tanpa melepaskan dasar ilmuku sebelumnya. Karena itu, maka semua ilmuku telah terlepas seluruhnya. Akik itupun telah kembali kepada ujudnya.” Hampir saja Agung Sedayu bertanya, apakah ujud akik itu. Tetapi untunglah ia masih dapat menahan diri, sehingga ia tidak langsung menunjukkan …

Baca lebih lanjut

Buku 162 (Seri II Jilid 62)

  “Karena itu, agaknya Raden Sutawijaya sendiri harus menjatuhkan perintah,” berkata Kiai Gringsing di dalam hatinya, “karena dalam perlawanan atas orang-orang Pajang, Swandaru tentu menganggap bahwa senapati tertinggi Mataram adalah Raden Sutawijaya yang bergelar Senapati ing Ngalaga. Hanya perintahnyalah yang wajib ditaati.” “Namun agaknya Untara pun akan menempatkan diri ke dalam satu jalur perintah Raden …

Baca lebih lanjut

Buku 163 (Seri II Jilid 63)

  “Kami menyadari arti perjuangan Raden Sutawijaya,“ berkata Ki Gede kemudian. “Kami mengharap kehadiran Ki Gede dan Ki Waskita, malam sebelum hari yang ditentukan itu datang,“ berkata senapati itu, “Senapati ing Ngalaga akan membicarakan segala sesuatunya tentang perjuangan yang nampaknya harus meningkat menjadi benturan kekuatan itu.” “Baiklah,“ jawab Ki Gede, “kami akan hadir. Aku akan …

Baca lebih lanjut

Buku 164 (Seri II Jilid 64)

  Suara titir itu menjadi semakin jelas, sementara itu, dengan jantung yang berdebaran ia melihat air yang datang bergulung menyusuri Kali Opak. Dengan tangkasnya ia meloncat turun. Kemudian dengan sekuat-kuatnya ia berteriak, “Banjir! Banjir itu datang!” Suaranya yang mula-mula tidak terdengar itu, ternyata telah disahut dan disambung oleh seorang senapati yang lain, yang mendengar teriakan …

Baca lebih lanjut