Tag Archives: Teja Prabawa

Buku 233 (Seri III Jilid 33)

“Satu hal yang rumit,“ berkata Ki Gede. “Ki Gede,“ Ki Panji Wiralaga memang agak ragu-ragu. Tetapi kemudian ia mengatakan juga, “Satu contoh adalah Ki Tumenggung Surayuda. Ia adalah saudara seayah dengan Arya Penangsang, meskipun ia lahir dari ibu yang berbeda. Lahir dari seorang selir. Tetapi ia merasa bahwa darah keturunan Demak mengalir di dalam tubuhnya. …

Baca lebih lanjut

Buku 234 (Seri III Jilid 34)

Ki Lurah menarik nafas dalam-dalam. “Biarlah mereka mengenal kenyataan yang keras dari kehidupan ini,“ katanya. Lalu, “Kalian jangan terlalu berendah hati. Sekali-sekali kalian menunjukkan kenyataan-kenyataan itu. Jika tidak demikian, maka gagallah usahaku membawa mereka kemari. Terutama Teja Prabawa. Ayahnya, yang memang seorang Tumenggung, terlalu memanjakan mereka dan mendidiknya menjadi seorang bangsawan yang sombong dan keras …

Baca lebih lanjut

Buku 235 (Seri III Jilid 35)

“Tetapi ternyata murid-muridmu sama sekali tidak tahu unggah-ungguh,“ Wirastama hampir berteriak, “tanpa bimbingan gurunya, aku tidak yakin bahwa yang diucapkan itu benar-benar satu janji yang akan dipatuhi.“ “Percaya atau tidak percaya itu adalah hakmu. Sekarang aku akan membawa murid-muridku pergi. Mereka sudah lama menjadi tontonan di sini, justru di saat mereka berlima dikalahkan dalam satu …

Baca lebih lanjut

Buku 236 (Seri III Jilid 36)

Beberapa saat kemudian, maka serangan-serangan mereka pun telah mulai mengenai sasaran. Tangan anak Ki Lurah Citrabawa itu sempat menyambar lambung Glagah Putih. Tetapi dengan mengerahkan daya tahan tubuhnya, maka dengan cepat ia menguasai dirinya sepenuhnya. Bahkan ketika kaki lawannya terjulur ke arah dadanya, Glagah Putih sempat merendah. Satu putaran kakinya telah menyambar kaki lawannya demikian …

Baca lebih lanjut

Buku 237 (Seri III Jilid 37)

Agung Sedayu masih saja bergeser untuk mengelak. Bahkan kemudian ia telah meloncat mengambil jarak, sehingga menjauhi Rara Wulan yang berdiri termangu-mangu dalam kegelapan. Demikianlah, maka Agung Sedayu pun segera terlibat dalam pertempuran sengit. Ia tidak sekedar berloncatan mengelakkan serangan lawannya, tetapi Agung Sedayu pun telah berganti menyerang. Ki Sigarwelat memang sudah memperhitungkan bahwa Agung Sedayu …

Baca lebih lanjut

Buku 238 (Seri III Jilid 38)

Agung Sedayu tersenyum sambil menjawab, “Seperti biasanya, Ki Gede setiap kali menilai perkembangan Tanah Perdikan ini. Manakah yang sudah dapat dianggap memenuhi keinginan rakyat Tanah Perdikan ini, dan yang manakah yang masih harus dibenahi.“ “Jadi tidak ada hal-hal yang baru yang dibicarakan?“ bertanya Ki Lurah. “Tidak Ki Lurah. Memang Ki Gede menyinggung serba sedikit tentang …

Baca lebih lanjut

Buku 266 (Seri III Jilid 66)

Tetapi tiba-tiba saja sebuah pertanyaan muncul di dalam hatinya, “Apakah hakku untuk merasa berkeberatan? Bukankah seharusnya Rara Wulan memang berbicara kepada kedua orang tuanya?” Di luar kehendaknya, telah muncul di dalam angan-angannya orang tuanya yang berada di Banyu Asri. Ayah Glagah Putih tidak lebih dari seorang prajurit, yang meskipun pernah memimpin satu kesatuan prajurit di …

Baca lebih lanjut

Buku 277 (Seri III Jilid 77)

Namun peristiwa itu merupakan satu peringatan bagi Tanah Perdikan Menoreh, bahwa sebenarnyalah bahaya masih ada di antara mereka. Orang-orang berilmu tinggi dan pengikutnya itu masih tetap mendendam Sabungsari dan Glagah Putih. Apalagi setelah beberapa orang di antara mereka justru terbunuh di Tanah Perdikan Menoreh beberapa waktu yang lewat. Malam itu seisi rumah Agung Sedayu seakan-akan …

Baca lebih lanjut

Buku 278 (Seri III Jilid 78)

Nampaknya memang tidak ada jalan lain kecuali menyerahkan Rara Wulan, jika mereka tidak ingin Raras hilang untuk selamanya dari lingkungan keluarganya. Bagi mereka yang tersangkut dalam persoalan hilangnya Raras, maka setiap tarikan nafas rasa-rasanya merupakan ketegangan yang semakin mencengkam, sejalan dengan beredarnya waktu. Ketika malam lewat, maka pagi-pagi benar Agung Sedayu telah bersiap bersama Glagah …

Baca lebih lanjut

Buku 279 (Seri III Jilid 79)

Raras tidak menjawab. Tetapi dari sorot matanya nampak bahwa ia tidak yakin akan kata-kata Raden Teja Prabawa, dan bahkan kata-kata ibunya. Raden Teja Prabawa sendiri masih saja berdiri termangu-mangu menanggapi sikap Raras. Namun Nyi Rangga-lah yang kemudian mempersilahkan duduk. Raden Teja Prabawa pun kemudian duduk di sebelah Wacana. Tetapi ia tidak segera dapat menyatakan sesuatu. …

Baca lebih lanjut