Tag Archives: Tumenggung Gending

Buku 349 (Seri IV Jilid 49)

“Bukan itu.” “Siap atau tidak siap, aku akan menyerangmu.” Pangeran Puger benar-benar tidak memberi kesempatan Ki Naga Samekta untuk berbicara. Dengan cepat tombak Pangeran Puger itu berputar, kemudian terayun mendatar menyambar ke arah dada. Namun ketika Ki Naga Samekta menghindar dengan meloncat surut, maka tombak itu terjulur lurus memburu lambung. Ki Naga Samekta harus meloncat …

Baca lebih lanjut

Buku 350 (Seri IV Jilid 50)

Ternyata Glagah Putih tidak terlalu bodoh untuk tidak menghubungkan sikap laki-laki itu dengan ancaman Ki Tumenggung Panjer. Agaknya prajurit itu sengaja memancing persoalan. Jika terjadi perselisihan, maka ia akan dapat ditangkap dan ditahan di Demak. Karena itu, maka Glagah Putih pun menjadi semakin berhati-hati menghadapi sikap prajurit itu. “Ki Sanak,” berkata Glagah Putih kemudian, “istriku …

Baca lebih lanjut

Buku 377 (Seri IV Jilid 77)

Ketika kemudian Rara menyingsingkan kain panjangnya, sehingga yang nampak dikenakannya adalah pakaian khususnya, maka orang berwajah gelap itu pun segera menyadari bahwa ia telah berhadapan dengan orang yang mengaku suami istri yang tentu mempunyai bekal ilmu kanuragan. Karena itu maka ia pun kemudian berkata, “Agaknya kalian memang bukan orang kebanyakan. Mungkin kalian sengaja dikirim oleh …

Baca lebih lanjut

Buku 379 (Seri IV Jilid 79)

Ketika seorang pengawal Senapati yang sudah semakin terdesak itu mencoba untuk menghentikannya, maka sekali lagi Glagah Putih menunjukkan pertanda yang dibawanya dari Mataram. “Apa yang akan kau lakukan?” bertanya pengawal yang sudah terluka bahkan cukup parah itu. “Serahkan Senapati tertinggi dari Demak itu kepadaku.” “Ia seorang yang memiliki ilmu yang sangat tinggi. Kau lihat bahwa …

Baca lebih lanjut

Buku 380 (Seri IV Jilid 80)

Satu-satu lawan Glagah Putih itu pun telah terluka. Ikat pinggang Glagah Putih itu selain dapat membentur senjata lawan seperti lempengan baja, ujungnya juga mampu menggores kulit lawan seperti ujung pedang yang sangat tajam. Karena itu maka Ki Jayengwira dan ketiga orang kawannya itu semakin lama menjadi semakin terdesak. Demikian pula lawan-lawan Rara Wulan. Selendang Rara …

Baca lebih lanjut

Buku 381 (Seri IV Jilid 81)

Karena itu maka Kanjeng Pangeran Puger itu pun kemudian berkata, “Ki Tumenggung Derpayuda. Ki Tumenggung adalah utusan bersama dengan beberapa orang narapraja yang lain. Aku hargai kedudukan Ki Tumenggung. Namun sebagai utusan, sebaiknya Ki Tumenggung tidak mengambil sikap yang mati. Sampaikan saja kepada Adimas Panembahan jawabku. Aku akan datang kemudian. Terserah kepada Adimas Panembahan Hanyakrawati, …

Baca lebih lanjut

Buku 382 (Seri IV Jilid 82)

Ki Patih Mandaraka tertawa. Ki Patih pun kemudian berkata kepada Kanjeng Pangeran Puger, “Wayah, bagaimana sikap yang akan Wayah ambil? Aku tahu bahwa di sekitar Wayah sekarang terdapat orang-orang pintar seperti Ki Tumenggung Gending, Ki Tumenggung Panjer, serta beberapa orang Narpacundaka serta para pemimpin yang lain, yang mempunyai sikap dan pandangan yang berbeda dengan tatanan …

Baca lebih lanjut

Buku 383 (Seri IV Jilid 83)

Pertempuran antara keduanya menjadi semakin sengit. Kedua belah pihak telah meningkatkan ilmu mereka semakin lama menjadi semakin tinggi. Pedang mereka berputar, menebas dan mematuk berganti-ganti. Bunga-bunga api pun menjadi semakin banyak terhambur dari benturan kedua senjata di tangan kedua orang Senapati yang berilmu tinggi itu. Di sisi lain dari benturan kedua pasukan induk itu telah …

Baca lebih lanjut