Tag Archives: Tumenggung Prabadaru

Buku 130 (Seri II Jilid 30)

  “Kiai Gringsing selalu menghalangi. Kiai Gringsing berkeberatan, jika anak yang sedang dalam tingkat pertama dari penyembuhannya itu harus mengalami ketegangan jiwa,” sahut Untara. “Apakah serba sedikit kita tidak akan dapat mendengar keterangannya, yang paling sederhana sekalipun?” bertanya seorang perwira yang lain. Untara menggeleng. Jawabnya, “Aku tidak ingin menjadi sasaran penyesalan jika terjadi sesuatu pada …

Baca lebih lanjut

Buku 132 (Seri II Jilid 32)

  Dalam kebimbangan, ternyata Agung Sedayu telah menghentakkan segenap kekuatannya, segenap kemampuannya, dan segenap daya ungkapnya atas ilmu yang dimilikinya. Ia tidak ingin mengalami kesulitan yang lebih parah lagi pada keadaan yang demikian. Meskipun ia tidak berharap akan dapat menyelesaikan pertempuran itu dengan serta merta, namun ia berharap bahwa ia akan dapat mempergunakan kemampuannya itu …

Baca lebih lanjut

Buku 133 (Seri II Jilid 33)

  Pangeran Benawa menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, ”Ki Sanak. Aku memang tidak menyangka, bahwa kuburan ini dijaga. Karena itu, ketika kalian tiba-tiba saja muncul, aku menjadi bingung dan menjawab asal saja tanpa memikirkan akibatnya.” ”Sebut, siapa kalian,” penjaga yang bertubuh paling tinggi membentak semakin keras. ”Begini Ki Sanak,” jawab Pangeran Benawa, ”sebenarnya kami hanya …

Baca lebih lanjut

Buku 134 (Seri II Jilid 34)

  Tetapi Ki Tumenggung Prabadaru menggeleng sambil berkata, ”Kali ini tidak. Dendam Gembong Sangiran tidak akan dapat dibeli. Tetapi jika kita dapat memanfaatkannya, dengan dorongan janji beberapa keping emas, aku kira ia akan lebih garang lagi terhadap padepokan kecil itu. Tetapi tentu tidak sekarang, meskipun Agung Sedayu dan Sabungsari masih belum sembuh. Tetapi di padepokan …

Baca lebih lanjut

Buku 150 (Seri II Jilid 50)

  “Kau akan menemui Ki Lurah?” bertanya Agung Sedayu. Ketiga anak-anak muda itu mengangguk-angguk. Salah seorang dari mereka menjawab, “Kami ingin mengambil rontal yang harus kami serahkan kepada Raden Sutawijaya yang bergelar Senapati ing Ngalaga.” “Ki Lurah ada di dalam,” jawab Agung Sedayu, “apakah kalian akan berangkat sekarang?” “Ya,” jawab anak muda itu, “agar waktu …

Baca lebih lanjut

Buku 154 (Seri II Jilid 54)

  Pangeran Benawa memandang Agung Sedayu dengan tajamnya. Namun kemudian iapun tersenyum sambil menjawab, “Pertanyaanmu aneh, Agung Sedayu. Setiap orang di Sangkal Putung tahu, bahwa dua hari lagi Ki Demang Sangkal Putung bakal menerima calon menantunya yang ngenger untuk sepekan di kademangan.” Agung Sedayu menarik nafas panjang, “Ya Pangeran. Agaknya memang demikian.” “Ya. Dan Ki …

Baca lebih lanjut

Buku 155 (Seri II Jilid 55)

  Dalam pada itu maka sebagaimana direncanakan, maka pada hari kelima pengantin itupun akan diboyong ke Jati Anom dalam upacara ngunduh pengantin. Widura-lah yang menyiapkan tempat dan perlengkapan upacara. Rumah Untara yang selama itu dipergunakan sebagai tempat tinggal beberapa orang perwira dan tempat kedudukan pimpinan pasukan Pajang di Jati Anom, telah dibersihkan dan benar-benar menjadi …

Baca lebih lanjut

Buku 156 (Seri II Jilid 56)

  Apalagi ketika ia melihat bahwa keseimbangan telah berubah, maka segala macam pikiran untuk sampai pada satu tingkat ilmu di luar jangkauan orang kebanyakan untuk sementara telah disisihkannya. Yang bertempur dengan orang yang sama sekali belum dikenalnya adalah Ki Waskita dan Agung Sedayu. Lawan Ki Waskita adalah seorang yang masak dalam ilmunya. Tetapi orang itupun …

Baca lebih lanjut

Buku 163 (Seri II Jilid 63)

  “Kami menyadari arti perjuangan Raden Sutawijaya,“ berkata Ki Gede kemudian. “Kami mengharap kehadiran Ki Gede dan Ki Waskita, malam sebelum hari yang ditentukan itu datang,“ berkata senapati itu, “Senapati ing Ngalaga akan membicarakan segala sesuatunya tentang perjuangan yang nampaknya harus meningkat menjadi benturan kekuatan itu.” “Baiklah,“ jawab Ki Gede, “kami akan hadir. Aku akan …

Baca lebih lanjut

Buku 164 (Seri II Jilid 64)

  Suara titir itu menjadi semakin jelas, sementara itu, dengan jantung yang berdebaran ia melihat air yang datang bergulung menyusuri Kali Opak. Dengan tangkasnya ia meloncat turun. Kemudian dengan sekuat-kuatnya ia berteriak, “Banjir! Banjir itu datang!” Suaranya yang mula-mula tidak terdengar itu, ternyata telah disahut dan disambung oleh seorang senapati yang lain, yang mendengar teriakan …

Baca lebih lanjut