Tag Archives: Untara

Buku 063 (Seri I Jilid 63)

    Masih tidak ada jawaban. Untara menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia kini justru harus menahan kegelian yang hampir meledak, melihat dua orang anak muda yang berdiri tegak seperti tikus di dalam kubangan. “Baiklah. Terserah apa yang akan kalian lakukan. Aku akan kembali,” tetapi Untara menjadi ragu-ragu, apakah kalau keduanya ditinggalkan di tempat itu, mereka tidak …

Baca lebih lanjut

Buku 065 (Seri I Jilid 65)

  Kedua anak-anak muda itu sama sekali tidak menyahut. Tetapi keduanya hanya menundukkan kepalanya saja, meskipun keduanya dapat mengerti, bahwa yang dikatakan oleh gurunya itu memang bukan sekedar persoalan yang tidak bersungguh-sungguh yang dapat sekedar didengarkannya sambil berbaring. Namun demikian keduanya tidak dapat segera menanggapinya. Tetapi Kiai Gringsing pun memang tidak memerlukan jawaban. Ia hanya …

Baca lebih lanjut

Buku 067 (Seri I Jilid 67)

  Ki Ranadana seakan-akan tersadar dari mimpi buruknya. Tiba-tiba saja ia menengadahkan kepalanya. Ia adalah perwira Pajang yang mengemban tugas langsung dari senapati di daerah selatan ini. Karena itu, maka katanya, “Kalian harus tunduk pada perintah kami.” Orang-orang itu tidak membantah lagi. Beriringan mereka digiring ke luar pintu butulan setelah mereka meletakkan senjata mereka, sedang …

Baca lebih lanjut

Buku 079 (Seri I Jilid 79)

  Dada Ki Gede Pemanahan menjadi semakin berdebar-debar. Kini ia mulai condong kepada pendapat bahwa agaknya Sultan Hadiwijaya sudah mengetahui apa yang terjadi atas putra angkatnya Raden Sutawijaya. Jika demikian, maka selama ini yang dihadapi adalah sikap yang pura-pura saja dari Sultan. Sebenarnya Sultan Pajang itu telah menyimpan kemarahan yang membara di dadanya. Namun agaknya …

Baca lebih lanjut

Buku 080 (Seri I Jilid 80)

  “Nah, jika kau meragukan kebenarannya, kau dapat menemui utusan itu. Ia masih hidup sampai sekarang. Orang itu tentu akan dapat mengatakan bahwa ia ditugaskan langsung oleh Kanjeng Sultan atas dasar laporan petugas sandi. Jika kau masih belum yakin, ajaklah orang itu menghadap Kanjeng Sultan, agar kau tahu pasti bahwa perintah itu datang dari Kanjeng …

Baca lebih lanjut

Buku 084 (Seri I Jilid 84)

  “Gila!” Sorohpati menggeram. Kemudian katanya di dalam hati, “Sesudah Kanjeng Kiai Pleret, kini Kanjeng Kiai Mendung. Apakah artinya ini semua? Apakah sebenarnya Kanjeng Sultan di Pajang sudah mengetahui bahwa kekuasaan Pajang akan berpindah ke Mataram?” Sejenak Sorohpati berdiam diri. Kemudian seperti orang terbangun dari mimpinya, ia melihat dua orang lewat beberapa langkah di hadapannya. …

Baca lebih lanjut

Buku 088 (Seri I Jilid 88)

  Kiai Kelasa Sawit memperhatikan kuda-kuda yang berderap meninggalkan halaman rumah yang kotor itu. Demikian kuda-kuda itu lenyap di balik regol, maka ia pun segera memanggil orang-orang yang paling dekat dengan dirinya sambil menghentakkan kakinya, “Gila. Siapakah yang membawa prajurit-prajurit itu kemari?” Seorang yang bertubuh kurus sambil menyandang sebuah canggah bertangkai pendek di bahunya menyahut, …

Baca lebih lanjut

Buku 089 (Seri I Jilid 89)

  Ki Demang mengangguk-angguk. Katanya, “Ya, ya Ki Sanak. Aku menyadari kekeliruan itu. Aku akan sangat memperhatikannya dan akan aku sampaikan kelak kepada prajurit Pajang yang masih sering datang untuk memberi bimbingan olah kanuragan.” “Mudah-mudahan tidak menimbulkan salah paham,” berkata Kiai Gringsing kemudian. “Aku akan berusaha,” jawab Ki Demang bersungguh-sungguh. Demikianlah, maka setelah Ki Demang …

Baca lebih lanjut

Buku 090 (Seri I Jilid 90)

  Tiba-tiba saja Kiai Kelasa Sawit menggeram. Kemarahan yang ditekannya di dalam dadanya, rasa-rasanya tidak tertahankan lagi, sehingga ia tidak dapat mengekang ledakan yang dahsyat. Semua orang Tambak Wedi terkejut, ketika mereka kemudian mendengar Kiai Kelasa Sawit berteriak nyaring. Seperti teriakan seekor orang hutan di tengah-tengah rimba setelah berhasil membunuh lawannya. Dengan serta-merta Kiai Kelasa …

Baca lebih lanjut

Buku 091 (Seri I Jilid 91)

  Ketika malam menjadi semakin dalam, maka nampaklah berapa tanda bahwa prajurit Pajang akan dapat menguasai keadaan. Kiai Kalasa Sawit yang bertempur melawan Ki Sumangkar, ternyata sama sekali tidak dapat berbuat lain, kecuali memusatkan perhatiannya kepada lawannya itu. Sementara itu, Kiai Jalawaja dan seorang pengawalnya telah terkurung di dalam lingkaran gelar Cakra Byuha, dan harus …

Baca lebih lanjut