Tag Archives: Untara

Buku 098 (Seri I Jilid 98)

  Dalam pada itu, Gandu Demung pun telah bersiap pula menghadapi cambuk Swandaru. Seolah-olah ia ingin melihat setiap wajah yang berada di sekitar arena itu. “Bagus,” berkata Gandu Demung kepada orang-orang yang berkerumun itu, “aku sadar bahwa aku akan mati. Tetapi sebelumnya kalian akan menyaksikan bagaimana aku mencincang pengantin baru ini sebelum kalian beramai-ramai menguliti …

Baca lebih lanjut

Buku 099 (Seri I Jilid 99)

  Para prajurit dari Pajang itu masih tetap tegang. Namun pemimpinnya kemudian berkata, “Marilah, kami akan mengawasi perjalanan kalian karena kalian berada di dalam wilayah kekuasaan Pajang.” Terdengar seorang pengawal menggeretakkan giginya. Tetapi tidak seorang pun yang menjawab. Para pengawal itu pun kemudian meneruskan perjalanan mereka. Di belakang mereka sekelompok prajurit Pajang mengikutinya pada jarak …

Baca lebih lanjut

Buku 100 (Seri I Jilid 100)

  Tetapi Agung Sedayu sudah bersiap menghadapinya. Dengan serta-merta, sebuah ledakan yang dahsyat telah mengejutkan kedua orang lawannya. Ledakan itu terdengar jauh lebih menggetarkan daripada ledakan-ledakan yang didengarnya sebelumnya. Dalam keragu-raguan itu, Agung Sedayu-lah yang kemudian menyerang lawannya dengan ujung cambuknya. Ledakan yang mengejutkan itu disusul pula oleh ledakan lain, yang langsung menyerang lawannya. Tetapi …

Baca lebih lanjut

Buku 101 (Seri II Jilid 1)

  Sebuah padepokan kecil akan lahir di sebelah Kademangan Jati Anom. Di atas sebuah pategalan yang sudah ditumbuhi dengan berbagai macam pohon buah-buahan, akan dibangun kelengkapan dari sebuah padepokan betapapun kecilnya. Sebuah rumah induk dengan pendapa dan bagian-bagian yang lain, sebuah tempat ibadah, kolam dan sebuah kandang kuda. Di bagian belakang akan terdapat beberapa buah …

Baca lebih lanjut

Buku 103 (Seri II Jilid 3)

  Orang-orang yang berada di dalam sanggar itupun menjadi tegang. Mereka mulai membayangkan apa yang bakal terjadi. Kedua anak muda itu adalah anak-anak muda yang memiliki kemampuan yang tinggi, sehingga apabila keduanya tenggelam dalam arus perasaan yang tidak terkendali, maka akan terjadi perang tanding yang sangat dahsyat di dalam sanggar itu. Tetapi di dalam sanggar …

Baca lebih lanjut

Buku 104 (Seri II Jilid 4)

  “Jika gelora di dalam dadanya itu mendapat pengarahan yang tepat, maka gairah yang menyala-nyala di dalam dada Swandaru itu akan dapat menghasilkan sesuatu yang besar bagi kademangannya. Tetapi jika sekedar didorong keinginannya sendiri,“ berkata Sumangkar di dalam hatiya. Karena itulah, maka setelah berbincang dengan Ki Demang, ia memutuskan untuk pergi ke padepokan kecil Kiai …

Baca lebih lanjut

Buku 113 (Seri II Jilid 13)

  Agung Sedayu masih termangu-mangu. Tetapi ia tidak sampai hati melihat para pengawal mengalami kesulitan. Dan hampir di luar sadarnya ia telah mengangkat cambuknya kembali. Sekali lagi terdengar cambuk Agung Sedayu meledak. Meskipun Agung Sedayu tidak mengenai seorangpun dari ketiga orang lawannya, namun suara cambuknya telah mengejutkan mereka. Sejenak mereka bagaikan kehilangan pengamatan diri oleh …

Baca lebih lanjut

Buku 114 (Seri II Jilid 14)

  Pengawal itupun bergeser surut. Sejenak ia hilang di luar pintu paseban dalam. Namun kemudian ia nampak kembali bersama seorang anak muda. Agung Sedayu. Wajah Untara benar-benar menjadi tegang. Ketika Agung Sedayu bergeser sambil berjongkok setapak demi setapak, rasa-rasanya anak itu menjadi sangat lamban. Hampir saja ia berteriak agar adiknya itu bersikap sedikit cepat. Ketika …

Baca lebih lanjut

Buku 115 (Seri II Jilid 15)

  Dalam pada itu, para petani yang meninggalkan Agung Sedayu itu pun telah memasuki halaman Kademangan. Dengan wajah yang merah padam, mereka memaksa para pengawal yang menahan mereka, untuk dapat bertemu dengan Ki Demang. “Ada persoalan apa?” bertanya para pengawal. “Persoalan penting. Persoalan yang akan kami laporkan langsung kepada Ki Demang.” “Tetapi masih banyak tamu …

Baca lebih lanjut

Buku 118 (Seri II Jilid 18)

  “Ayah tentu memperbolehkan jika Kakang tidak berkeberatan.” “Aku tidak berkeberatan, jika Paman Widura mengijinkan.” “Itu namanya berputar-putar,” Glagah Putih bersungut-sungut, “tetapi aku akan ikut Kakang melihat sawah dan pategalan.” “Hanya sawah di ujung lorong itu,” potong Agung Sedayu. “Ya. Sawah di ujung lorong.” Glagah Putih tetap pada pendiriannya. Agaknya Ki Widura memang tidak melarangnya, …

Baca lebih lanjut