Tag Archives: Wacana

Buku 277 (Seri III Jilid 77)

Namun peristiwa itu merupakan satu peringatan bagi Tanah Perdikan Menoreh, bahwa sebenarnyalah bahaya masih ada di antara mereka. Orang-orang berilmu tinggi dan pengikutnya itu masih tetap mendendam Sabungsari dan Glagah Putih. Apalagi setelah beberapa orang di antara mereka justru terbunuh di Tanah Perdikan Menoreh beberapa waktu yang lewat. Malam itu seisi rumah Agung Sedayu seakan-akan …

Baca lebih lanjut

Buku 278 (Seri III Jilid 78)

Nampaknya memang tidak ada jalan lain kecuali menyerahkan Rara Wulan, jika mereka tidak ingin Raras hilang untuk selamanya dari lingkungan keluarganya. Bagi mereka yang tersangkut dalam persoalan hilangnya Raras, maka setiap tarikan nafas rasa-rasanya merupakan ketegangan yang semakin mencengkam, sejalan dengan beredarnya waktu. Ketika malam lewat, maka pagi-pagi benar Agung Sedayu telah bersiap bersama Glagah …

Baca lebih lanjut

Buku 279 (Seri III Jilid 79)

Raras tidak menjawab. Tetapi dari sorot matanya nampak bahwa ia tidak yakin akan kata-kata Raden Teja Prabawa, dan bahkan kata-kata ibunya. Raden Teja Prabawa sendiri masih saja berdiri termangu-mangu menanggapi sikap Raras. Namun Nyi Rangga-lah yang kemudian mempersilahkan duduk. Raden Teja Prabawa pun kemudian duduk di sebelah Wacana. Tetapi ia tidak segera dapat menyatakan sesuatu. …

Baca lebih lanjut

Buku 280 (Seri III Jilid 80)

Agung Sedayu mengangguk-angguk kecil. Tetapi katanya kemudian, “Aku akan berbicara dengan keduanya. Tetapi bukankah Mataram nampaknya juga dalam keadaan tenang?” Ki Wirayuda mengangguk. Katanya, “Ya. Sekarang kita tidak melihat gejolak di Mataram. Mudah-mudahan untuk selanjutnya Mataram dalam keadaan tenang. Meskipun demikian, mendung yang mengalir dari Pati masih tetap memungkinkan untuk mencurahkan hujan angin dan prahara.” …

Baca lebih lanjut

Buku 281 (Seri III Jilid 81)

Glagah Putih pun kemudian duduk di amben bambu yang besar di ruang dalam bersama Agung Sedayu dan Sekar Mirah. Diceritakannya apa yang telah dilihatnya di kebun belakang. Ditunjukannya lingkaran besi baja yang bergerigi itu kepada Agung Sedayu. Gerigi yang hampir saja mengoyak kulitnya. “Tentu tidak ada hubungannya dengan sikap Wacana,“ desis Glagah Putih. “Ya,” Agung …

Baca lebih lanjut

Buku 285 (Seri III Jilid 85)

“Ya Paman. Jika pertempuran telah terjadi, maka aku akan membawa pasukan terkuat di sisi barat ke selatan.” “Jangan terlambat. Kita harus memperhitungkan kemungkinan buruk bagi pasukan yang ada di sisi selatan,” berkata Ki Gede. “Aku akan menemui pemimpin pengawal di sisi barat,” berkata Prastawa kemudian. “Jangan lewat jalan di depan rumah Agung Sedayu,” pesan Ki …

Baca lebih lanjut

Buku 286 (Seri III Jilid 86)

Dua orang pengawal itu pun berlari-lari mengambil sebuah lincak bambu kecil di serambi dan dibawa kembali turun ke halaman. Dengan sangat hati-hati Rara Wulan telah diangkat dan diletakkan keatas lincak itu untuk diusung ke pendapa. Sekar Mirah benar-benar menjadi gelisah. Ia tidak ingat lagi lukanya sendiri. Sementara Ki Gede setelah memungut kembali tombaknya, telah naik …

Baca lebih lanjut

Buku 287 (Seri III Jilid 87)

Sekali-sekali Glagah Putih juga bertemu dengan sekelompok pengawal yang meronda menyusuri jalan-jalan di padukuhan induk. Namun Glagah Putih pun tahu bahwa di padukuhan-padukuhan lain, para pengawal tentu juga bersiaga sepenuhnya. Ketika Glagah Putih sampai di rumah Agung Sedayu, maka suasananya pun tidak berbeda dengan suasana seluruh pedukuhan. Sepi dan lengang. Meskipun lampu-lampu minyak tetap menyala, …

Baca lebih lanjut

Buku 288 (Seri III Jilid 88)

Ketika mereka memasuki regol halaman, maka Sabungsari berdesis, “Agaknya Ki Rangga Wibawa sudah ada di rumah.” “Mungkin. Jika Ki Rangga berangkat pagi-pagi, maka ia sudah lama berada di rumah,” jawab Glagah Putih. Sabungsari mengangguk-anggguk. Tetapi ia tidak menjawab. Namun ternyata keduanya tidak melihat seekor kuda pun berada di halaman. Karena itu, maka Glagah Putih justru …

Baca lebih lanjut

Buku 290 (Seri III Jilid 90)

“Senang atau tidak senang, tetapi kita memang harus menunggu sampai sore nanti. Kita tidak dapat memaksa anak-anak ini mengatakan apa yang tidak mereka ketahui. Atau bukan menjadi wewenangnya untuk mengatakannya.” “Aku menjadi tidak sabar lagi. Apa sebenarnya yang dikehendaki oleh Ki Argajaya? Bahkan ia telah mengirimkan seorang anak kecil dan seorang perempuan kemari?” geram orang …

Baca lebih lanjut