Tag Archives: Wanakerti

Buku 051 (Seri I Jilid 51)

  “Agaknya Prastawa ada di rumah,” desis Agung Sedayu. “Ya,” jawab Sekar Mirah, “ia baru datang malam ini.” Prastawa menjadi semakin gelisah. “Bersama anak ini?” Agung Sedayu melanjutkan. “Ya,” berkata Sekar Mirah selanjutnya, “anak ini ingin menjemput aku dan membawa pergi ke rumahnya.” Dahi Agung Sedayu menjadi berkerut-merut karenanya. Namun Sekar Mirah segera berkata, “Tetapi …

Baca lebih lanjut

Buku 053 (Seri I Jilid 53)

  Sejenak kemudian terdengar suara gemerasak di dedaunan tepat di atas jalan sempit yang gelap, menurun dan jatuh di tanah. Kiai Gringsing mendapat kesan bahwa para peronda itu terkejut karenanya. Serentak kuda-kuda mereka berhenti. “Apakah kalian juga mendengar suara gemerasak itu?” bertanya salah seorang yang agaknya menjadi pemimpinnya. “Ya,” sahut yang lain. “Apakah menurut dugaan …

Baca lebih lanjut

Buku 054 (Seri I Jilid 54)

  “Apakah kau melihat hantu-hantu itu melempari barak ini dengan batu?” “He?” orang yang kekurus-kurusan itu justru terperanjat, bahkan ia bertanya, “apakah rumah ini dilempari dengan batu?” “Ya. Tepat pada saat suara hantu-hantu itu mengitari barak ini.” “Bodoh kau,” orang yang tinggi kekar itu berteriak, “hantu-hantu tidak perlu melemparkan batu-batu itu dengan tangannya seperti kita …

Baca lebih lanjut

Buku 055 (Seri I Jilid 55)

  Agung Sedayu yang sedang memperhatikan kedatangan pengawas yang berkumis itu terkejut, ketika Swandaru berteriak, “Awas, Kakang!” Agung Sedayu sadar, bahwa orang yang jatuh itu masih mungkin berbuat sesuatu. Karena itu ia pun segera berpaling ke arahnya. Tepat pada saatnya, Agung Sedayu melihat orang itu berusaha bangkit dan melemparkan lagi sebuah pisau kecil ke arahnya. …

Baca lebih lanjut

Buku 056 (Seri I Jilid 56)

  Kedua orang kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi tiba-tiba salah seorang dari mereka bertanya, “Apakah benar orang tua itu ayahmu?” Agung Sedayu mengerutkan keningnya, “Ya, kenapa?” jawabnya. “Wajahmu sama sekali tidak mempunyai persamaan dengan orang tua itu. Apakah kau anak tirinya?” “Bukan, aku memang anaknya.” “Saudaramu, yang bernama Sangkan itu pun tidak mirip sama sekali dengan …

Baca lebih lanjut

Buku 057 (Seri I Jilid 57)

  Ketiga orang lawannya yang mengetahui bahwa tenaga kedua pengawas itu sudah semakin susut, justru berusaha untuk segera dapat membinasakan mereka. Mereka menjadi semakin garang dan serangannyapun menjadi semakin cepat. Dalam pada itu, seorang pengawas yang memisahkan diri masih juga berpacu di atas punggung kudanya. Ia mencoba untuk meninggalkan pengejarnya. Menurut perhitungannya, apabila para pengejarnya …

Baca lebih lanjut

Buku 061 (Seri I Jilid 61)

  Sambil menyeringai Kiai Telapak Jalak memutar rantainya seperti baling-baling. Tetapi cambuk Kiai Gringsing menyerangnya mendatar serendah lututnya, sehingga memaksa Kiai Telapak Jalak meloncat tinggi-tinggi. Tetapi begitu kakinya menyentuh tanah, sekali lagi ujung cambuk itu melecut lambungnya dan mengoyak bajunya. Bukan saja bajunya, tetapi juga kulitnya telah menitikkan darah. Kiai Telapak Jalak mengumpat-umpat. Tetapi umpatannya …

Baca lebih lanjut

Buku 065 (Seri I Jilid 65)

  Kedua anak-anak muda itu sama sekali tidak menyahut. Tetapi keduanya hanya menundukkan kepalanya saja, meskipun keduanya dapat mengerti, bahwa yang dikatakan oleh gurunya itu memang bukan sekedar persoalan yang tidak bersungguh-sungguh yang dapat sekedar didengarkannya sambil berbaring. Namun demikian keduanya tidak dapat segera menanggapinya. Tetapi Kiai Gringsing pun memang tidak memerlukan jawaban. Ia hanya …

Baca lebih lanjut

Buku 069 (Seri I Jilid 69)

  “Aku kira, jika ada prajurit-prajurit peronda sampai ke daerah ini, maka tentu ada gardu-gardu dan tempat-tempat pengawas yang menjadi tempat peristirahatan dan pusat-pusat perondaan.” “Mungkin demikian,” Kiai Gringsing pun mengangguk-angguk. “Jika demikian, kita dapat menempuh jalan yang semula akan kita lalui. Bukan jalan ini,” berkata Agung Sedayu kemudian. Tiba-tiba Swandaru mengerutkan keningnya. Sambil berpaling …

Baca lebih lanjut