Tag Archives: Raden Rangga

Buku 184 (Seri II Jilid 84)

Keduanya telah saling mendorong dengan kekuatan yang sangat besar, sehingga kaki-kaki mereka telah semakin membenam ke dalam tanah. Asap pun telah mengepul dan wajah-wajah mereka telah menjadi semakin pucat. Titik-titik keringat yang mengembun di kening dan dahi mulai mengalir dan membasahi wajah-wajah mereka. Bahkan kemudian di seluruh tubuh mereka telah mengembun keringat yang kemudian mengalir …

Baca lebih lanjut

Buku 185 (Seri II Jilid 85)

Anak muda itu tertawa. Katanya, “Kau memang sangat menarik. Ayolah. Berlatihlah. Kita tidak usah merasa segan. Kau tidak tahu namaku, dan aku tidak bertanya siapa namamu.” Tetapi Glagah Putih tetap menggeleng. Katanya, “Tidak mau. Aku tidak akan meneruskan latihan. Aku akan pulang. Sebelumnya aku masih harus membuka pliridan.” “Waktunya masih lama,” jawab anak muda itu, …

Baca lebih lanjut

Buku 186 (Seri II Jilid 86)

“Menarik sekali,” berkata Kiai Gringsing, “dengan demikian aku tidak hanya pergi seorang diri. Ada kawan berbincang di perjalanan. Karena perjalanan ke Tanah Perdikan Menoreh harus ditempuh dalam waktu agak panjang.” ”Bagaimana dengan Swandaru?” bertanya Widura. “Swandaru masih sibuk dengan latihan-latihannya. Ia berusaha untuk memahami satu lagi dari sekian segi yang dijumpainya dalam kitab yang aku …

Baca lebih lanjut

Buku 187 (Seri II Jilid 87)

Demikianlah, maka orang-orang yang tinggal di rumah Agung Sedayu itupun segera berangkat meninggalkan padukuhan induk Tanah Perdikan Menoreh. Tetapi mereka tidak berangkat berbareng dan rnengambil arah jalan yang sama. Mereka tidak ingin menarik perhatian, bukan saja di Mataram, tetapi juga sejak mereka berada di Tanah Perdikan Menoreh. Kiai Gringsing pergi bersama Ki Widura, sementara Kiai …

Baca lebih lanjut

Buku 188 (Seri II Jilid 88)

Karena itu, maka Ki Tumenggung itu pun menjadi tergagap dan tidak segera dapat menjawab. Karena Ki Tumenggung tidak menjawab, maka Panembahan Senapati pun telah bertanya kepada Raden Rangga, “Rangga, apakah yang sudah dilakukan oleh Agung Sedayu? Apakah ia membantumu menangkap harimau itu dan melepaskannya di halaman Ki Tumenggung?” “Tidak Ayahanda,” jawab Raden Rangga, “Agung Sedayu …

Baca lebih lanjut

Buku 190 (Seri II Jilid 90)

“Ya Guru. Karena itu, kita harus bekerja dengan cermat,” berkata Agung Sedayu. Ternyata bahwa orang-orang tua yang berada di rumah Agung Sedayu serta Ki Gede sendiri telah bersedia untuk ikut menangani orang-orang Pajang yang sedang mencari keterangan di Tanah Perdikan itu. Dengan demikian, maka Agung Sedayu berharap bahwa usahanya akan dapat berhasil. la tidak boleh …

Baca lebih lanjut

Buku 196 (Seri II Jilid 96)

Panembahan Senapati masih juga mengangguk-angguk. Tetapi ternyata ia tidak menjawab kesan Swandaru itu. Bahkan ia pun kemudian berkata sehingga semua yang mendengarnya terkejut karenanya,, “Baiklah. Jika Adimas Adipati hanya mau menerima aku saja, maka biarlah aku menemuinya.” “Panembahan,” hampir di luar sadarnya Ki Lurah memotong, “jika Panembahan ingin berbicara, sebaiknya Panembahan memanggil Adipati Pajang. Panembahan …

Baca lebih lanjut

Buku 197 (Seri II Jilid 97)

Beberapa saat anak-anak yang sedang mandi itu termangu-mangu. Namun tiba-tiba seorang di antaranya telah meluncur memasuki lubang itu. Beberapa saat ia berendam di dalam lubang mata air itu, sehingga Raden Rangga menjadi berdebar-debar. Jika terjadi sesuatu dengan anak itu, maka ia akan dipersalahkan. Namun sejenak kemudian, maka anak itu pun telah muncul ke permukaan sambil …

Baca lebih lanjut

Buku 198 (Seri II Jilid 98)

Namun dalam pada itu, Raden Rangga yang ingin melihat kebakaran yang lebih besar lagi, telah memusatkan nalar budinya pula. Dari dalam dirinya pun telah memancar udara panas yang menghembus ke arah banjar yang terbakar. Bahkan beberapa orang tiba-tiba saja telah merasa dipanggang di atas api. Namun kemudian telah berhembus pula angin yang sejuk dan meluncurkan …

Baca lebih lanjut

Buku 199 (Seri II Jilid 99)

Sebenarnyalah bahwa Glagah Putih pun telah bersiap. Bahkan di luar dugaan, justru Glagah Putih-lah yang menyerang lebih dahulu. Serangan Glagah Putih memang bukan serangan yang langsung ke arah bagian-bagian tubuh lawannya yang lemah. Tetapi ia sekedar memancing agar kedua orang lawannya pun segera mulai bertempur. Ia tidak mempunyai banyak waktu, karena ia berjanji dengan Raden …

Baca lebih lanjut